stop

SITUS Batu Tulis Huludayeuh yang berlokasi di Cikalahang. Foto Diskominfo
Suara Semesta, Kabupaten Cirebon
Tersembunyi di tengah hamparan sawah yang indah dengan latar belakang perbukitan yang menyejukkan mata, terdapat sebuah situs bersejarah bernama Batu Tulis Huludayeuh. Lokasi persisnya berada di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. Tempat ini menyimpan jejak berharga berupa peninggalan Kerajaan Sunda yang sayangnya belum banyak diketahui oleh masyarakat luas.
 
Secara fisik, prasasti ini berwujud batu berukuran sekitar 74 sentimeter tingginya dan memiliki lebar 36 sentimeter. Di permukaannya, terukir tulisan-tulisan kuno menggunakan aksara purba yang menjadi saksi bisu peradaban masa lampau. Keberadaan situs ini sangat istimewa, karena Huludayeuh disebut-sebut sebagai satu dari hanya dua prasasti batu tulis peninggalan Kerajaan Sunda yang berhasil ditemukan di wilayah Jawa Barat hingga saat ini.
 
Edi, yang menjabat sebagai juru kunci situs tersebut, membenarkan fakta sejarah itu. Ia pun menceritakan kisah awal mula bagaimana benda bersejarah ini pertama kali ditemukan. Menurut penuturannya, prasasti ini ditemukan oleh warga sekitar pada sekitar tahun 1930 silam. Saat itu, kawasan Desa Cikalahang masih berupa hutan belantara yang lebat, belum berubah menjadi lahan persawahan seperti pemandangan yang terlihat saat ini.
 
"Dulu sini masih hutan rimbun. Konon ada pohon beringin besar yang tumbang, dan di bawah akar pohon itulah batu ini pertama kali ditemukan," ungkap Edi saat ditemui di lokasi oleh tim Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cirebon, pada Jumat (22/5).
 
Meski sudah ditemukan sejak puluhan tahun yang lalu, kajian dan penelitian mendalam terhadap benda ini baru benar-benar dilakukan pada bulan Februari 1991. Tak lama setelah penelitian tersebut rampung, Pemerintah menetapkan Prasasti Batu Tulis Huludayeuh sebagai benda cagar budaya yang wajib dilindungi dan dijaga kelestariannya.
 
Nilai sejarah situs ini sangat tinggi, terutama karena kaitannya erat dengan kekuasaan dan wilayah pengaruh Kerajaan Sunda. Berdasarkan penjelasan para ahli sejarah yang pernah meneliti lokasi ini, prasasti ini dibuat atas perintah seorang pemimpin besar yang bergelar Sri Maharaja Ratu Haji.
 
"Tulisan yang ada di batu ini dibuat atas perintah pihak kerajaan sebagai tanda peringatan dan bukti nyata atas berbagai pekerjaan besar yang telah dilaksanakan demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat pada masa itu," jelas Edi.
 
Selain menjadi tempat penelitian sejarah, Situs Batu Tulis Huludayeuh kini juga dibuka untuk umum secara gratis. Edi mengaku sangat gembira jika banyak orang, khususnya para pelajar dan generasi muda, yang berkenan berkunjung ke tempat ini untuk menimba ilmu sejarah dan budaya daerah.
 
"Saya sangat senang sekali kalau ada yang datang berkunjung. Sudah sering kali ada rombongan sekolah yang berkunjung ke sini untuk belajar langsung," tambahnya dengan nada gembira.
 
PENEMU Juru Kunci saat bersama tim IKP Diskominfo Kabupaten Cirebon. Foto Diskominfo

Menurut pandangan Edi, situs ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi unggulan di Kabupaten Cirebon. Pengunjung tidak hanya sekadar melihat benda purba, tetapi bisa mempelajari makna nama "Huludayeuh" yang dipercaya memiliki arti penting. Berdasarkan cerita para sesepuh desa, kata 'Hulu' bermakna kepala atau pusat, sedangkan 'Dayeuh' berarti kota. Oleh karena itu, nama Huludayeuh diyakini mengandung makna sebagai pusat pemerintahan atau pusat kegiatan masyarakat pada masa lalu.
 
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan zaman, Edi berharap generasi muda tidak melupakan sejarah dan tetap memiliki kepedulian tinggi terhadap warisan leluhur. "Mereka harus mau datang dan berkunjung, supaya mengenal sejarah daerahnya sendiri dan ikut menjaga agar situs ini tetap lestari sampai ke anak cucu nanti," harapnya.
 
Kaitan dengan Sri Baduga Maharaja dan Penelitian Ilmiah
 
Ditinjau dari sisi akademis, penelitian mendalam mengenai prasasti ini pernah dipublikasikan oleh arkeolog bernama Hasan Djafar dalam jurnal ilmiah Berkala Arkeologi edisi Volume 14 tahun 1994, dengan judul Prasasti Huludayeuh. Dalam tulisannya yang dapat diakses melalui laman Kemendikbudristek, Hasan Djafar mencatat bahwa jumlah temuan prasasti dari masa Kerajaan Sunda di Jawa Barat masih jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan penemuan sejenis di wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur.
 
Hasan Djafar menjelaskan bahwa penamaan prasasti ini diambil langsung dari nama lokasi tempat ia ditemukan. Berdasarkan kajian isi tulisannya, prasasti ini berkaitan erat dengan penghormatan terhadap jasa-jasa besar Sri Baduga Maharaja, atau yang lebih dikenal masyarakat luas dengan sebutan Prabu Siliwangi. Nama besar pemimpin ini pun tertulis jelas di dalam isi prasasti tersebut.
 
"Raja yang disebutkan di dalam Prasasti Huludayeuh itu tidak lain ialah Ratu Purana Sri Baduga Sri Maharaja Ratu Haji ri Pakwan Sya San Ratu Dewata," tulis Hasan Djafar dalam penelitiannya.
 
Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa kemungkinan besar prasasti ini tidak dibuat atas perintah langsung dari Sri Baduga Maharaja, melainkan atas perintah penerus tahtanya, yaitu Raja Surawisesa yang memerintah pada kurun waktu 1521 hingga 1535 Masehi.
 
"Mengingat isi tulisan di sini banyak berkenaan dengan usaha memperingati jasa-jasa dan kebajikan Sri Baduga Maharaja, sangat mungkin prasasti ini dikeluarkan bukan oleh beliau sendiri, melainkan oleh raja penggantinya, Raja Surawisesa," urai penelitian tersebut.
 
Dalam catatan penelitian itu juga disebutkan bahwa kondisi fisik Prasasti Huludayeuh saat ini sudah tidak lagi utuh. Sebagian sisi batu ada yang patah, dan permukaannya banyak yang sudah aus terkikis zaman, sehingga menyebabkan beberapa huruf dan kalimat sulit untuk dibaca atau diterjemahkan sepenuhnya. Meskipun demikian, keberadaan prasasti ini tetap menjadi sumber data sejarah yang sangat berharga untuk menelusuri jejak keberadaan dan kekuasaan Kerajaan Sunda di wilayah Kabupaten Cirebon dan sekitarnya.


Pewarta : Dariman. A. Md
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments: