Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon tersebut berlangsung di Museum Pangeran Cakrabuana, Jalan Sunan Drajat Nomor 9, Sumber.
Pembukaan pameran dilakukan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno. Setelah seremoni pembukaan, pengunjung disuguhi pertunjukan Sintren, Berokan, Tarling Klasik, Tari Reog, Tari Ronggeng Bugis, Rudat Cirebon
Sejumlah kegiatan lain diadakan secara bergantian selama pameran berlangsung. Diantaranya Lomba Mendongeng Cerita Rakyat Cirebon tingkat SMP, Lomba Baca Puisi Bahasa Cirebon tingkat SMA, serta Lomba Melukis Motif Batik Cirebon tingkat SMP.
Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan pelajar dari berbagai wilayah di Kabupaten Cirebon.
 |
| SINTREN Salah satu budaya Cirebon tarian sintren. Foto Ramadhan |
Keberadaan museum selama ini masih diketahui sebatas tempat menyimpan benda-benda kuno.
Padahal berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum, museum memiliki fungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, sekaligus mengomunikasikannya kepada masyarakat.
Oleh karena itu, benda yang berada di museum bukan sekedar objek pajangan.
Setiap koleksi memiliki konteks sejarah, pengetahuan, nilai pendidikan, serta nilai budaya yang dapat dipelajari masyarakat.
Idealnya pengunjung tidak hanya melihat bentuk sebuah benda, namun juga memahami tentang apa benda tersebut dibuat, siapa pembuatnya, bagaimana proses pembuatannya, bagaimana benda itu digunakan, dan nilai budaya apa yang terkandung di dalamnya.
Konsep tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkenalkan Museum Pangeran Cakrabuana kepada masyarakat.
Museum Pangeran Cakrabuana merupakan museum khusus yang fokus pada koleksi seni dan budaya, khususnya yang berkaitan dengan Kebudayaan Cirebon.
Museum tersebut dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon.
Gagasan untuk menghadirkan museum di Kabupaten Cirebon telah muncul sejak sekitar tahun 2006-2007. Salah satu tokoh yang ikut menggagasnya adalah Dr. Casta.
Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan ruang untuk menyimpan, merawat, mengkaji, dan memperkenalkan benda-benda seni serta budaya Cirebon kepada masyarakat.
Pembangunannya dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan anggaran pemerintah daerah. Dalam perkembangannya, pemerintah pusat juga memberikan dukungan terhadap pembangunan dan pengembangan museum.
Museum Pangeran Cakrabuana kemudian diresmikan pada 2 April 2014 oleh Bupati Cirebon.
Nama Pangeran Cakrabuana yang digunakan sebagai nama museum juga memiliki alasan historis.
Pangeran Cakrabuana dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Cirebon. Dalam sejumlah sumber tradisional Cirebon, tokoh tersebut disebut sebagai salah satu pendiri Cirebon.
Referensi mengenai Pangeran Cakrabuana antara lain terdapat dalam Babad Cirebon koleksi Brandes yang diterbitkan Rinkes pada tahun 1911.
Nama Pangeran Cakrabuana juga berhubungan dengan Carita Purwaka Caruban Nagari, yang menurut Atja ditulis Pangeran Arya Carbon pada 1720 dengan Referensi pada Nagarakretabhumi.
Penggunaan nama tersebut menjadi bagian dari museum identitas sekaligus pengingat bahwa perkembangan Kebudayaan Cirebon tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarahnya.
Museum Koleksi Pangeran Cakrabuana tersebar di dua lantai.
Di lantai pertama terdapat koleksi batik, termasuk Batik Trusmi dan Batik Ciwaringin. Pengunjung juga dapat menemukan busana pengantin, busana tari, keris, Berokan, Topeng, serta Kedok Wayang Wong.
Sementara lantai kedua menyimpan koleksi Wayang Kulit Cirebon, Wayang Golek Sunda, Wayang Golek Cepak, gamelan Cirebon, lukisan kaca, dan gerabah.
Keragaman koleksi tersebut menggambarkan luasnya perkembangan seni dan budaya yang hidup di Cirebon.
Salah satu koleksi yang memiliki cerita menarik adalah Wayang Kulit Cirebon. Dalam tradisi tertentu, wayang tersebut diyakini dibuat oleh Sunan Kalijaga.
Namun terdapat pula pandangan lain yang menyebut pembuatnya adalah Ki Kaca, yang disebut sebagai keturunan Sunan Kalijaga.
Perbedaan versi mengenai asal-usul tersebut menjadi bagian dari pengetahuan yang masih dapat dikaji lebih jauh.
Koleksi lain yang menarik adalah lukisan kaca yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19, sekitar tahun 1890-an. Koleksi tersebut menjadi salah satu penanda perkembangan awal tradisi lukisan kaca di Cirebon.
Museum juga memiliki sejumlah koleksi keris yang dinilai memiliki nilai tinggi oleh kalangan pegiat dan pemerhati keris.
Meski demikian, museum belum menetapkan koleksi tertentu sebagai mahakarya dalam pengertian koleksi unggulan utama yang mendapat perlakuan khusus dalam tata pamer dan pengamanan.
Pameran tahun ini juga menjadikan pelajar sebagai bagian penting dari rangkaian kegiatan.
Lomba Mendongeng Cerita Rakyat Cirebon tingkat SMP diadakan pada tanggal 29 September 2026 dengan juri Roji Hidayat, Rucita, dan Uuk Sukarna.
Selanjutnya, Lomba Baca Puisi Bahasa Cirebon tingkat SMA diadakan 30 September 2026 dengan juri Edeng Syamsul Maarif, Fathan Mubarak, dan Imam Emje.
Pada tanggal 1 Oktober 2026, digelar Lomba Melukis Batik Motif Cirebon tingkat SMP dengan juri Dr. Casta, Lilis Katura, dan Bahendi.
Rangkaian tersebut menampilkan pendekatan yang berbeda dalam memperkenalkan museum kepada generasi muda. Koleksinya tidak hanya dilihat sebagai benda masa lalu, tetapi diterjemahkan melalui cerita, bahasa, seni hiburan, dan kreativitas visual.
Dengan cara itu, museum diharapkan tidak berhenti sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi menjadi ruang belajar yang mempertemukan sejarah dengan kreativitas generasi sekarang.
Sebab, menjaga warisan budaya bukan hanya soal mempertahankan bendanya, tetapi juga memastikan cerita, pengetahuan, dan nilai yang ada di baliknya tetap dipahami oleh generasi berikutnya.
( Ramadan )