| KOHE Kegiatan pengendalian kotoran hewan. Foto Diskominfo |
Kuningan Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan menggandeng Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertema Kemitraan Komunitas Internasional : Memperkuat Lembaga Koperasi Peternakan melalui Transfer Pengetahuan Philipina-Indonesia tentang Pengendalian Kotoran Hewan (KOHE), Senin (11/05/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Grage Hotel Sangkan itu, diikuti para penyuluh pertanian dan peternakan, pengurus koperasi Saluyu, Larasati, Karya Nugraha, serta sejumlah peternak sapi dan petani di Kabupaten Kuningan.
Dalam kegiatan tersebut turut menghadirkan tiga narasumber, yakni Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kuningan, Kepala Bidang Pengendalian, Pemulihan, dan Penegakan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan, serta narasumber internasional dari Philipina.
Ketua pelaksana kegiatan, Prof. Dr. Lia Muliawaty, M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan PKM tersebut menjadi bagian dari penguatan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, koperasi, dan komunitas internasional dalam membangun sistem peternakan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Sementara itu, Kaprodi Administrasi Publik FISIP Unpas, Dr. Ine Mariane, M.Si., mengatakan, pengelolaan KOHE kini menjadi isu penting dalam pengembangan sektor peternakan modern. Menurut dia, limbah peternakan harus mampu diubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkuat kapasitas koperasi peternakan agar tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga memiliki sistem pengelolaan lingkungan yang baik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kuningan, H. Toni Kusumanto, AP., M.Si., memaparkan perkembangan Koperasi Produsen Karya Nugraha Jaya Kuningan sepanjang tahun 2025.
Ia menyebutkan, koperasi tersebut menunjukkan pertumbuhan positif di hampir seluruh sektor usaha. Jumlah anggota aktif meningkat menjadi 876 orang atau bertambah 29 anggota dibanding tahun sebelumnya.
Selain itu, produksi susu mencapai 9,29 juta liter atau naik 24,75 persen dibanding 2024 dan melampaui target anggaran. Produksi pakan konsentrat juga meningkat menjadi 5,73 juta kilogram.
“Koperasi saat ini tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi anggota, tetapi juga menjadi motor peningkatan kesejahteraan peternak sapi perah di Kabupaten Kuningan,” kata Toni.
Menurut Toni, penguatan koperasi juga dilakukan melalui layanan kesehatan ternak, inseminasi buatan, hingga program kredit bagi anggota untuk meningkatkan populasi sapi induk laktasi dan produktivitas susu.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian, Pemulihan, dan Penegakan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan, Rismunandar, S.Hut., M.Si., menjelaskan pentingnya pengelolaan KOHE dalam mendukung pengendalian lingkungan hidup.
| PETERNAKAN Kadis Koperasi saat menerima cinderamata. Foto Diskominfo |
“Pengelolaan KOHE menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran limbah peternakan sekaligus mendukung ekonomi hijau berbasis masyarakat,” ujarnya.
Program tersebut juga sejalan dengan visi pembangunan daerah “Kuningan Melesat”, khususnya dalam menjaga kelestarian sumber daya alam dan menekan emisi lingkungan.
Dalam kesempatan yang sama, narasumber internasional dari Philipina, Prof. Dr. Norberto Paranga Jr., Ph.D., D.Hum., D.Litt., secara virtual melalui Zoom Meeting dalam paparannya, menekankan pentingnya transformasi digital dan inovasi teknologi dalam mendukung tata kelola organisasi modern, termasuk pada sektor peternakan dan pengelolaan limbah berbasis masyarakat.
Ia menjelaskan, di Philipina, kotoran hewan (KOHE) telah diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi melalui berbagai inovasi teknologi ramah lingkungan. Salah satunya melalui pemanfaatan KOHE sapi menjadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga dapat membantu masyarakat mengurangi penggunaan gas elpiji yang harganya terus meningkat.
Selain itu, residu hasil pengolahan biogas kembali dimanfaatkan menjadi pupuk cair dan pupuk padat untuk mendukung sektor pertanian organik dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian masyarakat.
Tak hanya itu, KOHE juga diolah menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga. Menurut Norberto, pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa sektor peternakan tidak hanya menghasilkan daging dan susu yang bernilai gizi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dari limbah peternakan.
“Pengelolaan KOHE yang tepat dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.
Prof. Norberto juga menegaskan bahwa penerapan teknologi, pemanfaatan data, serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, koperasi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan lingkungan berbasis komunitas di era modern.
Pewarta : Dariman. A. Md










Post A Comment:
0 comments: