stop

TABUHAN gong sekati saat ditabuh nayaga. Foto Suhadi
Tradisi nabuh gong sekati/sekaten di Kesultanan Kanoman tahun ini dimulai dari tanggal 22-26 Agustus 2026 . 

Awit muni (awal bunyi) gong sekaten ini dikenal sebagai pelal alit yang dalam penanggalan aboge bertepatan dengan 7 Maulud sedangkan 12 mulud dikenal dengan pelal ageng. 

Kesultanan Kanoman Cirebon mengadakan tradisi pelal alit dan pelal ageng dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W berdasarkan kesepakatan minoritas ulama bahwa kelahiran Rosulullah itu pada 7 Maulid sedangkan mayoritas ulama menyepakati pada 12 Maulid, jadi Kesultanan memakai keduanya untuk memperingati Maulid.

Di malam kedua penabuhan Gong Sekati ini Pangeran Patih Mohammad Qodiron pada jam 22:30 WIB hadir dan memberikan saweran sebagai tradisi.

NAYAGA para penabuh gong sekati. Foto Suhadi 
Terlihat beberapa pengunjung dan keluarga dari 3 Kasultanan di Cirebon juga ikut memberi saweran. 

Dalam kesempatan ini Patih Kesultanan Kacerbonan yang biasa dipanggil Mama Elang Tomi dan anak keduanya pun ikut hadir.

Penabuhan Gong Sekati ini dipimpin oleh Lurah Sugiarto. Saat ditemui awak media beliau menjelaskan awal mula mengabdi di Kesultanan dari tahun 1995 dan diangkat menjadi Lurah tahun 2008 sampai sekarang. 

“Latihan penabuhan gamelan pada tahun ini dilaksanakan selama 4 hari yang biasanya selama 3 hari di dalam keraton karena beberapa nayaga/penabuh ada yang baru bergabung”, ujarnya.

Family Kanoman yang biasa dipanggil Ca Mamat menjelaskan bahwa penempatan gamelan sekaten yang ada di Cirebon dengan yg di Yogyakarta ataupun Solo itu berbeda.

Gamelan sekaten yang di Kanoman itu ada versi yang mengatakan gamelan hadiah dari Demak atau Mataram dan versi lain mengatakan gamelan ini dibawa oleh Pangeran Walangsungsang Hadiah dari gurunya Sanghyang Bango (Pajajaran) makanya dalam penabuhan gamelan ini ada lagu bango butak.

Ketebalan gamelan sekaten Cirebon lebih tipis dan lebih bercorak ke Hindu dibandingkan gamelan Sekaten dari Yogyakarta.

R. Nanang, Keluarga Kasultanan Kasepuhan yang merupakan Ketua Pokdaryut (kelompok sadar Kebuyutan) hadir 2 hari berturut-turut berturut-turut dan merasa bahwa mendengarkan alunan gamelan sekaten ini membuat kedamaian dan harapan para nayaga wayang kulit maupun sandiwara di tahun depan bisa menghadiri acara ini.

Penulis: Suhadi 
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments: