| KETUA DKM Nurul Huda Ir. H. Suyanto saat menyampaikan sambutan. Foto Khumedi |
Suara Semesta, Kabupaten Cirebon
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dewan Kemakmuran
Masjid (DKM) Nurul Huda yang diketuai Ir. H. Suyanto, bekerja sama dengan
Pemerintah Desa Ujunggebang yang dipimpin oleh Kuwu Tariman, serta Keluarga
Besar Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Ujunggebang di bawah kepemimpinan Ust. Moh.
Robbach. Kolaborasi antara unsur masyarakat, pemerintah desa, dan organisasi
keagamaan ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial sekaligus penguatan
nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat.
Simaan Khatmil Qur’an oleh
Putra-Putri Desa
Rangkaian kegiatan diawali dengan Simaan Khatmil
Qur’an 30 juz bil ghaib, yaitu pembacaan Al-Qur’an dari hafalan oleh 13 anak
penghafal Al-Qur’an (hafidz dan hafidzah) yang merupakan putra-putri asli Desa
Ujunggebang. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan secara bergantian
menciptakan suasana religius yang mendalam, membuat para jamaah larut dalam
kekhusyukan malam Ramadan.
Ketua DKM Nurul Huda, Ir. H. Suyanto, menjelaskan
bahwa kegiatan simaan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan bentuk
penghormatan terhadap Al-Qur’an sekaligus upaya menumbuhkan kecintaan generasi
muda terhadap kitab suci umat Islam.
Menurutnya, kehadiran para hafidz dan hafidzah yang
berasal dari desa sendiri menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.
“Ini menjadi kebahagiaan bagi kami semua. Anak-anak
kita mampu menghafal Al-Qur’an dan menampilkannya dalam kegiatan keagamaan di
desa sendiri. Semoga ini menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk semakin
dekat dengan Al-Qur’an,” ujarnya.
Santunan untuk Anak Yatim dan
Kaum Dhuafa
Momentum Nuzulul Qur’an juga dimanfaatkan sebagai
ajang berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Pada kesempatan
tersebut panitia menyalurkan santunan kepada 82 anak yatim serta 500 kaum
dhuafa yang berasal dari Desa Ujunggebang dan sekitarnya.
Setiap anak yatim menerima santunan sebesar
Rp1.000.000, sedangkan kaum dhuafa menerima bantuan sebesar Rp150.000 per
orang. Penyaluran santunan dilakukan secara langsung oleh panitia dan tokoh
masyarakat setempat, disaksikan oleh ratusan warga yang hadir.
Ketua NU Ranting Ujunggebang, Ust. Moh. Robbach,
menjelaskan bahwa seluruh dana santunan berasal dari infak dan sedekah para
donatur, baik dari warga Desa Ujunggebang maupun masyarakat sekitar yang dengan
sukarela berpartisipasi dalam kegiatan sosial tersebut.
Pada tahun 2026 ini, total donasi yang berhasil
dihimpun mencapai Rp188.525.000. Jumlah tersebut mengalami peningkatan yang
cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun 2025 lalu, donasi yang terkumpul berada pada
kisaran Rp154 juta. Alhamdulillah tahun ini meningkat sekitar Rp30 juta lebih.
Ini menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap anak yatim dan kaum dhuafa
semakin tinggi dari tahun ke tahun,” ujar Ust. Robbach.
Ia juga menambahkan bahwa setelah penyaluran
santunan selesai dilakukan, panitia masih memiliki sisa dana sekitar Rp31 juta.
Dana tersebut direncanakan untuk dialokasikan sebagai program beasiswa
pendidikan bagi anak-anak yatim yang akan melanjutkan pendidikan ke pesantren.
“Kami berharap santunan ini tidak hanya bersifat
sesaat, tetapi juga mampu memberikan dukungan jangka panjang bagi pendidikan
anak-anak yatim, terutama yang ingin menimba ilmu di pesantren,” tambahnya.
Tabligh Akbar dan Pesan
Memuliakan Al-Qur’an
MASYARAKAT yang hadir saat acara berlangsung. Foto Khumedi
Puncak acara peringatan Nuzulul Qur’an diisi dengan
tabligh akbar yang disampaikan oleh KH Musthofa Aqil Siradj, pengasuh Pondok
Pesantren Al-Ghadier Kempek, Cirebon. Kehadiran beliau setiap tahun telah
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan tersebut.
Dalam tausiyahnya, KH Musthofa Aqil Siradj
mengisahkan sejarah awal kegiatan santunan anak yatim di Desa Ujunggebang.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan tradisi kebaikan yang telah dirintis sejak
lama bersama Kiai Nurhasan, yang pada waktu itu mengamanahkan kepada masyarakat
Ujunggebang untuk senantiasa menyayangi anak-anak yatim.
Beliau mengungkapkan bahwa pada awal pelaksanaan
kegiatan tersebut, dana santunan yang terkumpul hanya sekitar Rp400 ribu. Namun
seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kesadaran sosial masyarakat,
kegiatan ini berkembang menjadi agenda tahunan yang semakin besar dan membawa
manfaat luas.
“Ini adalah bukti bahwa masyarakat Ujunggebang
memiliki kepedulian yang tinggi terhadap anak yatim dan kaum dhuafa. Tradisi
kebaikan ini harus terus dijaga dan dilestarikan,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak seluruh
masyarakat untuk semakin memuliakan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dibaca, tetapi juga pedoman hidup
yang harus dipahami dan diamalkan.
“Segala sesuatu yang menjadi tempat Al-Qur’an akan
dimuliakan oleh Allah SWT. Karena sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dari Allah
untuk manusia sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan,” ungkapnya.
Beliau menutup tausiyahnya dengan doa agar seluruh
amal kebaikan para donatur, panitia, dan masyarakat yang terlibat dalam
kegiatan tersebut diterima oleh Allah SWT serta menjadi keberkahan bagi Desa
Ujunggebang.
Tradisi Sosial Keagamaan yang
Terus Hidup
Peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan
santunan anak yatim dan kaum dhuafa ini telah menjadi tradisi sosial-keagamaan
yang terus hidup di tengah masyarakat Desa Ujunggebang. Kegiatan tersebut tidak
hanya menjadi momentum ibadah di bulan Ramadan, tetapi juga menjadi simbol
kuatnya nilai kepedulian, gotong royong, dan solidaritas sosial yang terjalin
di antara warga.










Post A Comment:
0 comments: