stop

KETUA DKM Nurul Huda Ir. H. Suyanto saat menyampaikan sambutan. Foto Khumedi

Suara Semesta, Kabupaten Cirebon
Suasana penuh khidmat dan kebersamaan menyelimuti halaman Masjid Jami’ Nurul Huda, Desa Ujunggebang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, pada Rabu, 11 Maret 2026 bertepatan dengan 21–22 Ramadan 1447 Hijriah. Ratusan warga berkumpul dalam rangka Peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan kegiatan santunan anak yatim dan kaum dhuafa, sebuah tradisi keagamaan dan sosial yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat desa tersebut.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Huda yang diketuai Ir. H. Suyanto, bekerja sama dengan Pemerintah Desa Ujunggebang yang dipimpin oleh Kuwu Tariman, serta Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Ujunggebang di bawah kepemimpinan Ust. Moh. Robbach. Kolaborasi antara unsur masyarakat, pemerintah desa, dan organisasi keagamaan ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial sekaligus penguatan nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat.

Simaan Khatmil Qur’an oleh Putra-Putri Desa

Rangkaian kegiatan diawali dengan Simaan Khatmil Qur’an 30 juz bil ghaib, yaitu pembacaan Al-Qur’an dari hafalan oleh 13 anak penghafal Al-Qur’an (hafidz dan hafidzah) yang merupakan putra-putri asli Desa Ujunggebang. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan secara bergantian menciptakan suasana religius yang mendalam, membuat para jamaah larut dalam kekhusyukan malam Ramadan.

Ketua DKM Nurul Huda, Ir. H. Suyanto, menjelaskan bahwa kegiatan simaan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan bentuk penghormatan terhadap Al-Qur’an sekaligus upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kitab suci umat Islam.

Menurutnya, kehadiran para hafidz dan hafidzah yang berasal dari desa sendiri menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.

“Ini menjadi kebahagiaan bagi kami semua. Anak-anak kita mampu menghafal Al-Qur’an dan menampilkannya dalam kegiatan keagamaan di desa sendiri. Semoga ini menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an,” ujarnya.

Santunan untuk Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

Momentum Nuzulul Qur’an juga dimanfaatkan sebagai ajang berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Pada kesempatan tersebut panitia menyalurkan santunan kepada 82 anak yatim serta 500 kaum dhuafa yang berasal dari Desa Ujunggebang dan sekitarnya.

Setiap anak yatim menerima santunan sebesar Rp1.000.000, sedangkan kaum dhuafa menerima bantuan sebesar Rp150.000 per orang. Penyaluran santunan dilakukan secara langsung oleh panitia dan tokoh masyarakat setempat, disaksikan oleh ratusan warga yang hadir.

Ketua NU Ranting Ujunggebang, Ust. Moh. Robbach, menjelaskan bahwa seluruh dana santunan berasal dari infak dan sedekah para donatur, baik dari warga Desa Ujunggebang maupun masyarakat sekitar yang dengan sukarela berpartisipasi dalam kegiatan sosial tersebut.

Pada tahun 2026 ini, total donasi yang berhasil dihimpun mencapai Rp188.525.000. Jumlah tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Tahun 2025 lalu, donasi yang terkumpul berada pada kisaran Rp154 juta. Alhamdulillah tahun ini meningkat sekitar Rp30 juta lebih. Ini menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap anak yatim dan kaum dhuafa semakin tinggi dari tahun ke tahun,” ujar Ust. Robbach.

Ia juga menambahkan bahwa setelah penyaluran santunan selesai dilakukan, panitia masih memiliki sisa dana sekitar Rp31 juta. Dana tersebut direncanakan untuk dialokasikan sebagai program beasiswa pendidikan bagi anak-anak yatim yang akan melanjutkan pendidikan ke pesantren.

“Kami berharap santunan ini tidak hanya bersifat sesaat, tetapi juga mampu memberikan dukungan jangka panjang bagi pendidikan anak-anak yatim, terutama yang ingin menimba ilmu di pesantren,” tambahnya.

Tabligh Akbar dan Pesan Memuliakan Al-Qur’an

MASYARAKAT yang hadir saat acara berlangsung. Foto Khumedi

Puncak acara peringatan Nuzulul Qur’an diisi dengan tabligh akbar yang disampaikan oleh KH Musthofa Aqil Siradj, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ghadier Kempek, Cirebon. Kehadiran beliau setiap tahun telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan tersebut.

Dalam tausiyahnya, KH Musthofa Aqil Siradj mengisahkan sejarah awal kegiatan santunan anak yatim di Desa Ujunggebang. Menurutnya, kegiatan ini merupakan tradisi kebaikan yang telah dirintis sejak lama bersama Kiai Nurhasan, yang pada waktu itu mengamanahkan kepada masyarakat Ujunggebang untuk senantiasa menyayangi anak-anak yatim.

Beliau mengungkapkan bahwa pada awal pelaksanaan kegiatan tersebut, dana santunan yang terkumpul hanya sekitar Rp400 ribu. Namun seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kesadaran sosial masyarakat, kegiatan ini berkembang menjadi agenda tahunan yang semakin besar dan membawa manfaat luas.

“Ini adalah bukti bahwa masyarakat Ujunggebang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap anak yatim dan kaum dhuafa. Tradisi kebaikan ini harus terus dijaga dan dilestarikan,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk semakin memuliakan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dibaca, tetapi juga pedoman hidup yang harus dipahami dan diamalkan.

“Segala sesuatu yang menjadi tempat Al-Qur’an akan dimuliakan oleh Allah SWT. Karena sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dari Allah untuk manusia sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan,” ungkapnya.

Beliau menutup tausiyahnya dengan doa agar seluruh amal kebaikan para donatur, panitia, dan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut diterima oleh Allah SWT serta menjadi keberkahan bagi Desa Ujunggebang.

Tradisi Sosial Keagamaan yang Terus Hidup

Peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan santunan anak yatim dan kaum dhuafa ini telah menjadi tradisi sosial-keagamaan yang terus hidup di tengah masyarakat Desa Ujunggebang. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum ibadah di bulan Ramadan, tetapi juga menjadi simbol kuatnya nilai kepedulian, gotong royong, dan solidaritas sosial yang terjalin di antara warga.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Ujunggebang menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman tidak hanya dihayati dalam ibadah ritual, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Kontributor : Khumedi
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments: