stop

KPSTI saat acara. Foto suarasemesta 
Suara Semesta, Jakarta
Pencak silat dalam arus perubahan, urgensinya dengan pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang ditetapkan pada 12 Desember 2019 di Bogota, Kolombia, karena melihat UNESCO adanya praktik di masyarakat yang dapat berkontribusi terhadap kemanusiaan. Pencak silat adalah warisan budaya terpilih yang menjamin perdamaian, stabilitas dan pembangunan. 

Pencak silat mencerminkan nilai-nilai universal, seperti persahabatan, persaudaraan, saling menghormati atau kesetaraan dan memajukan kohesi sosial, itulah sebabnya pencak silat tidak hanya berkembang di bumi Nusantara, tetapi. juga menyeruak di belahan dunia lainnya.

Restu Gunawan menyatakan sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas upaya KPSTI dalam memajukan dan mengembangkan tradisi pencak silat, melalui dukungan yang bisa disinergikan dengan kegiatan yang ada di Kementrian Kebudayaan. 

Pun menegaskan bahwa pengakuan tersebut tidak melulu pencak silat hanya sebatas sebagai beladiri saja, tetapi lebih utama pada spektrum budaya yang lebih luas, bersifat holistik, seperti tradisi lisan, ekspresi budaya atau seni pertunjukan, adat istiadat, ritual dan nilai nilai spiritual lainnya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Berbasis semangat pengakuan UNESCO itulah, Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) dideklasikan pada 24 Agustus 2024 di Jakarta, utamanya dalam mengusung misi aksl program pelestarian, pengembangan dan oemanfaatan pencak silat (tradisi). Upaya memperkuat legitimasi itu, tentu negara atau pemerintah dituntut hadir dengan aksi perlindungan dan promosi pencak silat agar membumi dan mendunia atau mengglobal.

Pokok pikiran itu mengemuka saat pertemuan H. Mahfudz Abdurrahman, S.Sos, Ketua Umum Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) dengan Dr Restu Gunawan, M.Hum, Direktur Jenderal Pelindung Kebudayaan dan Tradisi Kementrian Kebudayaan, yang berlangsung, Senen 1 Desember 2025, di Gedung E Lantai 9, Kemenbud, Senayan Jakarta. 

Pertemuan yang hangat, akrab dan sangat menyenangkan, utamanya terkait dengan rencana kegiatan KPSTI, bertajuk *Tafakur dan Tasyakur 6 Tahun Retrospeksi Pencak Silat Tradisi Pasca Diakui UNESCO* yang akan digelar pada Minggu, 14 Desember 2025 di Padepokan Pencak Silat. TMII. Jakarta Timur.

Mahfudz yang didampingi panitia dan pengurus KPSTI lainnya, adalah politisi senayan atau anggota DPR dari Fraksi PKS yang sekarang bertugas di Komisi I, sebelumnya pernah duduk sebagai Wakil Ketua Komisi X, menyatakan bahwa ,KPSTI bisa bersinergi dengan pemerintah melalui Kemenbud, tentu dengan harapan tradisi pencak silat semakin dikenal dan berkembang, tidak hanya di tanah air, tetapi juga meluas hingga ke manca negara. Sementara itu, Syamsul Hadi, Direktur Kepercayaan Kepada Tuhan YME dan Masyarakat Adat, menyarankan agar KPSTI menjalin kemitraan juga dengan Kemenpora, karena Kementrian tersebut telah membuka ruang pelestarian tradisi, melalui pengembangan olahraga tradisi masyarakat.

Restu juga meminta KPSTI, untuk segera menyampaikan surat ke Menbud terkait acara 14 Desember, agar dapat disesuaikan dengan jadual Pak Mentri.

Menutup acara pertemuan, Ketua Umum KPSTI menambahkan akan ada sesie acara pemberian penghargaan atau anugerah, khususnya yang berperan dalam upaya pengusulan dan pengajuan tradisi pencak silat ke UNESCO, serta anugerah khusus yang menyumbangkan atas aksi luar biasanya dalam bidang pelestarian dan pemajuan pencak silat. Pertemuan diakhiri dengan foto bersama.

Editor : H. Asep D/WMY

.


.
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments: