stop

PROSESI pelestarian budaya maulid di Balong Keramat Tuk. Foto Sunaa 
Suara Semesta, Kabupaten Cirebon
 
Di tengah arus zaman yang terus berubah, masyarakat Cirebon tetap teguh menjaga warisan leluhur yang sarat makna. Salah satunya adalah tradisi penurunan kayu perbatang di Balong Kramat Pangeran Mancur Jaya, Tuk Cirebon, yang digelar pada puncak malam peringatan Muludan Tuk — setiap tanggal 19 Maulid/Rabiul Awal. Tradisi ini menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal tetap hidup, diwariskan dari generasi ke generasi, dan menjadi perekat kebersamaan masyarakat.
 
Puncak Malam Muludan Tuk 2026, Kemeriahan Budaya Penuh Keberkahan
 
Pada puncak malam Muludan Tuk, Rabu (02/09/2026), suasana di Balong Kramat Mancur Jaya berubah menjadi lautan kehangatan dan kebersamaan. Berbagai kegiatan digelar untuk memeriahkan momen istimewa ini, mulai dari arak-arakan panjang jimat, hingga pagelaran seni budaya khas Cirebon yang memukau, antara lain tari topeng, sintren, jaipong, debus, dan berbagai pertunjukan seni lainnya.
 
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Sultan Abdul Ghani Natadiningrat dari Kesultanan Kacirebonan, para Raden Kuwu, perangkat Pemerintah Desa Kertawinangun, serta ribuan masyarakat yang datang dari berbagai penjuru untuk menyaksikan dan merayakan tradisi malam Muludan Tuk yang penuh berkah di Balong Kramat Mancur Jaya.
 
Penurunan Kayu Perbatang: Simbol Sakral dan Penghormatan kepada Leluhur
 
PERBATANG kayu perbatang yang dikeramatkan. Foto Sunaa 
Tradisi yang disampaikan sekaligus penurunan kayu perbatang memiliki nilai sakral yang sangat tinggi di mata masyarakat. Bukan sekadar ritual semata, tradisi ini menjadi pengingat sekaligus simbol mendalam tentang nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya — sebagai bentuk penghormatan tulus kepada para pendahulu yang telah mewariskan kebaikan, kearifan, dan keteladanan bagi generasi penerus.
 
Ruang Kebersamaan, Gotong Royong, dan Silaturahmi
 
Ada banyak pelajaran berharga yang dapat dipelajari dari tradisi ini. Balong Kramat Mancur Jaya menjadi ruang bertemunya masyarakat tanpa sekat — di mana rasa kebersamaan, semangat gotong royong, dan kekuatan tali silaturahmi terjalin erat. Tradisi ini bukan hanya tentang masa lalu, melainkan tentang bagaimana kita hidup bersama di masa kini: saling menghargai, bekerja sama, dan mempererat persaudaraan sebagai satu keluarga besar masyarakat Cirebon.
 
Menjaga Warisan, Menghidupkan Identitas
 
Tradisi kelestarian penurunan kayu perbatang di Balong Kramat Mancur Jaya membuktikan bahwa budaya dan kearifan lokal tidak boleh ditinggalkan di tengah perkembangan zaman. Justru di sanalah identitas dan jati diri kita berada. Semoga tradisi ini terus terjaga, diwariskan, dan dirayakan dari generasi ke generasi — menjadi sumber keberkahan, kebersamaan, dan kebanggaan bagi masyarakat Cirebon selamanya.
 
( Suna'a/Dodit )
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments: