| PELAL masyarakat sekitar Desa Trusmi Wetan saat menggelar acara pelalan. Foto Suna'a |
Tanah Cirebon kembali dihiasi oleh kemeriahan dan kekhidmatan tradisi leluhur yang telah berjalan turun-temurun. Tradisi Pelal Muludan Trusmi, salah satu perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang paling ikonik dan sarat makna di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan), kembali mencapai puncak kemeriahannya.
Puncak perayaan atau yang lebih dikenal masyarakat setempat dengan istilah "Pelal" ini secara tradisi jatuh pada tanggal 25 Maulid (Rabiul Awal 8). Bagi masyarakat Trusmi, momen spesial ini jauh lebih akrab disapa dengan sebutan "Selawene". Untuk tahun 2026 ini, peringatan Selawene yang sakral dan penuh berkah tersebut bertepatan dengan tanggal 8 September 2026.
Bulan Maulid: Momentum Mengingat Nabi, Bersilaturahmi, dan Mengenang Leluhur
Bagi masyarakat Trusmi yang sangat kental dengan nilai-nilai keagamaan dan budaya, hadirnya bulan Maulid dalam kalender Islam tidak pernah dipandang sekadar sebagai pergantian waktu atau tanggalan semata. Bulan ini adalah momen yang sangat dinanti-nantikan dan diagungkan, karena menjadi momentum suci untuk kembali mengingat kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, suri teladan terbaik bagi seluruh umat manusia.
Lebih dari sekadar memperingati kelahiran Nabi, bulan Maulid juga menjadi waktu yang tepat untuk mempererat tali silaturahmi antar warga, kerabat, dan sanak saudara yang mungkin jarang bertemu. Namun, ada makna yang lebih dalam dan sakral lagi. Bulan ini juga menjadi momen untuk mengenang jasa-jasa para leluhur, khususnya para Waliullah yang telah berjasa besar menyebarkan ajaran Islam di tanah Trusmi dan mewariskan nilai-nilai kehidupan luhur yang masih dipegang teguh hingga saat ini.
Filosofi Mendalam "Selawene": Angka 25 dan Harapan akan Kelebihan Berkah
Salah satu hal yang paling menarik dan membuat tradisi Pelal Muludan Trusmi unik adalah penetapan puncak perayaan pada tanggal 25 Maulid. Ketika ditanya mengenai alasan di balik penetapan tanggal tersebut, Kaum atau Ketib Kramat Buyut Trusmi memberikan penjelasan yang penuh filosofi dan makna spiritual yang mendalam.
| PERSIAPAN kaum/ketib pengurus makam keramat saat melakukan persiapan acara. Foto Suna'a |
Istilah "Selawene" yang digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tanggal 25 ini, menurut penjelasan Ketib Kramat, berasal dari kata "Selangkungan" yang memiliki makna "langkungan" atau "kelebihannya". Inilah inti dari harapan dan doa yang dipanjatkan oleh seluruh masyarakat yang hadir dalam tradisi ini.
"Jadi pada dasarnya yang diharapkan masyarakat dalam hidupnya ada lebihannya. Dan intinya, masyarakat hadir di sini mencari barokahnya. Mereka tahu betul bahwa di sini ada barokahnya Waliullah," tegas Ketib Kramat Buyut Trusmi dengan penuh keyakinan.
Setiap orang yang datang bukan hanya sekadar ikut meramaikan acara, melainkan datang dengan hati yang penuh harap, memohon agar dalam setiap aspek kehidupan mereka senantiasa diberikan "kelebihan" — kelebihan rezeki, kelebihan keberkahan, kelebihan kesehatan, kelebihan kebaikan, dan segala kelebihan positif lainnya yang bersumber dari berkah Nabi Muhammad SAW dan berkah para Waliullah yang dimuliakan di tanah Trusmi.
Malam Puncak Pelal: Suasana Syukur, Doa, dan Kebersamaan
Malam puncak Pelal Muludan Trusmi berlangsung dengan sangat khidmat dan penuh kehangatan kekeluargaan. Hadir dalam momen sakral tersebut adalah Kuwu Trusmi Wetan Anidi beserta seluruh Kaum Kramat Buyut Trusmi. Kehadiran para tokoh adat dan agama ini menambah kesakralan suasana perayaan.
Acara inti diisi dengan pembacaan Kitab Barjanji yang lantunan syair pujiannya kepada Nabi Muhammad SAW mengalun merdu dan menyentuh hati, membangkitkan rasa cinta dan rindu yang mendalam kepada Baginda Rasulullah. Di tengah lantunan sholawat dan doa, terasa sekali adanya rasa syukur yang mendalam dari seluruh warga atas segala berkah yang telah diterima selama ini.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, malam Pelal ini juga menjadi wujud nyata dari nilai silaturahmi, kebersamaan, dan semangat gotong royong yang masih sangat hidup di masyarakat Trusmi. Semua orang berkumpul tanpa memandang status, bekerja sama menyukseskan acara, dan saling mendoakan kebaikan satu sama lain. Suasana ini benar-benar menggambarkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan yang terbangun berkat tradisi leluhur ini.
Warga dari Berbagai Penjuru Ciayumajakuning Datang "Ngalap Barokah"
Magnet spiritual dari tradisi Pelal Muludan Trusmi ternyata tidak hanya menyedot perhatian warga lokal saja. Ribuan orang bahkan datang berbondong-bondong dari berbagai wilayah di Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) untuk hadir dan mengikuti tradisi mulia ini. Mereka rela menempuh perjalanan jauh demi satu tujuan yang sama: "ngalap barokah" atau mencari berkah.
Salah satu buktinya adalah Sumiati, seorang warga yang datang dengan penuh antusias dari Indramayu. Ketika ditemui, beliau menyampaikan perasaan hatinya dengan tulus. Ia datang bukan hanya untuk melihat kemeriahan acara, melainkan datang dengan harapan yang sangat personal.
"Saya datang ke sini ngalap barokah, berharap mendapatkan kelancaran rezeki. Dan yang paling saya rasakan adalah adanya ketentraman, ketenangan hati yang luar biasa yang saya dapatkan di sini," ungkap Sumiati dengan wajah yang tampak damai dan berseri.
Ketenangan hati dan ketentraman jiwa yang dirasakan Sumiati ini mungkin adalah salah satu bentuk "kelebihan" atau berkah yang dicari oleh ribuan orang lainnya yang hadir. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh tekanan, suasana spiritual yang kental di Trusmi pada saat Muludan menjadi oase yang menenangkan jiwa.
| UNTUNG para pedagang yang meraup untung dari barang yang dijualnya. Foto Suna'a |
Di balik kemeriahan dan keramaian jamaah, ada realitas ekonomi yang juga dirasakan oleh para pedagang yang berjualan di sekitar lokasi perayaan. Tahun ini, banyak pedagang mengakui bahwa penjualan mereka terasa lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini mereka kaitkan dengan kondisi ekonomi yang sedang menurun, yang berdampak langsung pada menurunnya daya beli masyarakat.
Namun, meskipun omzet mereka tidak sebanyak yang diharapkan, ada hal yang jauh lebih berharga yang membuat para pedagang ini tetap setia datang dan berjualan di acara Muludan Trusmi. Mereka tetap meyakini dengan teguh bahwa ada barokah yang luar biasa dari tradisi Muludan Trusmi ini.
Bagi mereka, berjualan di acara Muludan bukan hanya soal mencari keuntungan materi semata. Lebih dari itu, mereka percaya bahwa dengan ikut serta meramaikan dan berkontribusi dalam acara yang penuh berkah ini, rezeki mereka akan mendapatkan keberkahan tersendiri, meskipun secara kasat mata penjualan sedang lesu. Keyakinan yang kuat akan adanya "kelebihan" berkah inilah yang membuat mereka tetap tersenyum dan semangat menjalankan dagangannya.
Tradisi yang Tetap Hidup, Menjaga Identitas dan Harapan
Tradisi Pelal Muludan Trusmi dengan segala norma, filosofi, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah membuktikan dirinya sebagai warisan budaya yang tidak lekang oleh waktu. Ia bukan hanya sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah institusi sosial dan spiritual yang menjaga identitas masyarakat Trusmi, mempererat tali persaudaraan, dan menjadi sumber harapan serta ketenangan bagi ribuan orang yang datang mencari berkah.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, keberlangsungan tradisi seperti Pelal Muludan Trusmi menjadi bukti bahwa nilai-nilai luhur warisan leluhur masih sangat relevan dan dibutuhkan oleh masyarakat modern. Semoga tradisi mulia ini senantiasa terjaga, terus diwariskan kepada generasi mendatang, dan senantiasa menjadi sumber keberkahan, ketentraman, serta kebersamaan bagi seluruh masyarakat.
( Suna'a/Dodit )









Post A Comment:
0 comments: